Saturday, May 23, 2015

Jawaban Honda Terhadap Gugatan Kasus Kecelakaan Honda City

Pada tanggal 4 Maret 2015, PT Honda Prospect Motor menerima gugatan atas peristiwa kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sebuah Mobil Honda City tipe GM2 1.5 S A/T (“Honda City”). Dalam gugatan ini, Penggugat yang bernama Maringan Aruan, SE., mendalilkan adanya pelanggaran UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen karena airbag Mobil Honda City yang tidak mengembang dalam kecelakaan tersebut. Sehubungan dengan hal ini, pada tanggal 19 Mei 2015, PT Honda Prospect Motor telah mengajukan Jawaban terhadap Gugatan tersebut di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, yang meminta Majelis Hakim untuk menolak atau setidak-tidaknya menyatakan Gugatan tidak dapat diterima berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut:


1. Tidak Ada Kerusakan/Cacat Produksi pada SRS Airbag Mobil Honda City 

Gugatan yang menyatakan pada intinya SRS Airbag pada Mobil Honda City mengalami cacat produksi adalah tidak benar. Mobil Honda City telah melalui proses pengujian kendaraan bermotor, baik secara internasional maupun sesuai dengan peraturan yang berlaku di Indonesia. Selain itu, indikator mobil menunjukkan SRS Airbag berfungsi dan tidak ada catatan gangguan dalam servis berkala di Service Center Dealer Resmi Honda, sebagaimana dinyatakan oleh Penggugat. Paska kecelakaan terjadi, atas permintaan dan persetujuan Penggugat pula, telah dilakukan pengecekan atas Mobil oleh Honda Motor Jepang untuk mengetahui apakah SRS Airbag Mobil Honda City tersebut mengalami gangguan ataukah berfungsi sebagaimana mestinya. Dari pemeriksaan tersebut dapat disimpulkan bahwa SRS Airbag berfungsi dengan baik dan tidak ditemukan adanya cacat produksi pada komponen tersebut. Sebagai informasi tambahan, sampai saat ini Honda tidak pernah mendapatkan laporan atau keluhan dari pelanggan Honda lainnya mengenai gangguan pada SRS Airbag Mobil Honda City sebagaimana yang dipermasalahkan oleh Penggugat.


2. Kecelakaan yang Dialami Penggugat Tidak Memenuhi Kondisi atau Prasyarat untuk yang Memicu Mengembangnya Airbag

Teknologi airbag mobil memang dirancang sedemikian rupa agar mengembang hanya pada kondisi-kondisi tertentu. Karena sebaliknya, airbag justru dapat membahayakan pengemudi atau penumpang apabila terlalu mudah mengembang. Untuk mobil Honda City, kondisi yang dapat memicu SRS Airbag untuk mengembang adalah tubrukan dengan kecepatan kendaraan 20-30 km/jam atau lebih terhadap benda kokoh yang tidak bergeser dan tidak hancur ketika terjadi tubrukan (misalnya dinding beton), dan jika tubrukan tersebut terjadi secara frontal atau dari arah depan kiri atau kanan dalam sudut tidak lebih dari 30° (tiga puluh derajat). Sebaliknya, SRS Airbag tidak akan mengembang dalam kondisi-kondisi sebagai berikut:
  • Mobil menabrak pagar, tiang, pilar atau benda lain yang akan mengalami pergeseran ketika tertabrak oleh mobil (bukan benda tidak bergerak, seperti dinding beton).

Description: http://www.honda-indonesia.com/images/news/airbag/Picture01.jpg

  • Mobil menabrak tiang listrik, pohon atau pilar tepat di tengah dari bagian depan mobil. Tubrukan dari arah depan kiri atau kanan dalam sudut lebih dari 30° (tiga puluh derajat).


  • Tubrukan dari arah samping, tubrukan dari arah belakang, maupun mobil terguling.
  • Dalam beberapa kondisi tersebut, energi yang diterima oleh sensor tidak cukup kuat untuk membuat SRS Airbag mengembang.
Berdasarkan fakta yang ada, Mobil Honda City yang dikendarai Anak Penggugat mengalami tubrukan awal dengan pagar pembatas jalan di Jl. Kapten Tendean, Jakarta Selatan, yang mengakibatkan pagar pembatas jalan tercabut dan terbawa oleh bagian depan mobil. Tubrukan ini tidak memenuhi syarat SRS Airbag mengembang karena obyek yang ditabrak bukan benda kokoh yang tidak bergeser dan tidak hancur ketika terjadi tubrukan. Setelah menabrak pagar pembatas jalan, mobil kemudian melaju berlawanan arah hingga menabrak bagian pilar Rumah Makan Padang Karya Minang tepat pada bagian tengah dari depan mobil. Kondisi tersebut termasuk dalam kondisi kecelakaan yang tidak menyebabkan SRS Airbag mengembang.


3. Kerugian yang Diklaim Penggugat Tidak Disebabkan karena Airbag yang Tidak Mengembang

SRS Airbag pada Honda City yang dipermasalahkan tidak mengalami gangguan/cacat produksi. Selain itu, teknologi G-CON dan ACE™ pada mobil tersebut telah bekerja dalam meredam energi benturan yang terjadi sehingga kabin mobil tetap utuh.

Meskipun demikian, sebaik apapun perangkat keamanan yang dipasang dalam kendaraan, tetap saja tidak menjamin 100% bahwa pengendara/penumpang akan selamat dari kecelakaan atau tidak mengalami cedera atau mengakibatkan kematian. Oleh sebab itu, dalam hal ini diperlukan adanya tanggung jawab setiap pengemudi dalam berlalu lintas untuk mencegah terjadinya kecelakaan kendaraan bermotor. Berdasarkan fakta yang ada, diketahui bahwa pada saat kecelakaan Anak Penggugat mengalami luka di daerah dada akibat tusukan besi pagar pembatas jalan yang tertabrak oleh Mobil. Dalam hal ini, SRS Airbag didesain untuk mengurangi cidera akibat benturan pengemudi dengan setir, dan sejak awal tidak diperuntukan untuk melindungi pengemudi dari tusukan benda tajam dari luar, seperti yang dialami oleh Anak Penggugat. Lebih lanjut, berdasarkan Surat Keterangan Tanda Bukti Lapor Kecelakaan Lalu Lintas No. Reg Laporan: 644/SK/XI/2012/Dit Lantas, kecelakaan terjadi pada 29 Oktober 2012 sekitar jam 01.50 WIB karena pengemudi kurang konsentrasi sehingga mobil oleng ke kanan lalu menabrak pagar pembatas jalan dan menyeberang ke arah sisi jalan yang berlawanan kemudian menabrak pilar Rumah Makan Padang Karya Minang.


4. Ganti Kerugian yang Dituntut Penggugat Tidak Berdasar, karena Tidak ada Hubungan Sebab Akibat Antara Kerugian Penggugat dengan SRS Airbag yang Tidak Mengembang 

Berdasarkan fakta bahwa SRS Airbag pada Mobil Honda City tidak mengalami cacat produksi, kecelakaan yang dialami tidak memenuhi kondisi atau prasyarat untuk mengembangnya SRS Airbag, serta kerugian yang dialami Penggugat tidak diakibatkan oleh SRS Airbag yang tidak mengembang, maka tidak ada kewajiban dari Honda untuk memenuhi tuntutan Penggugat. Meskipun demikian, Honda telah beritikad baik dengan melakukan mediasi bahkan jauh sebelum persidangan dimulai kepada pihak Penggugat. Namun mediasi tersebut tidak mencapai kesepakatan karena Penggugat meminta Honda untuk membayar ganti rugi dengan total sekitar Rp. 56 milyar, yang termasuk di dalamnya sebesar USD 552,250 untuk mengganti biaya hidup Anak Penggugat selama 8 tahun menempuh pendidikan di luar negeri serta biaya imateriil senilai Rp. 50 milyar. Tuntutan tersebut tidak berdasar karena tidak ada sangkut pautnya dengan Tergugat dan tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 19 ayat (2) UU Perlindungan Konsumen yang menyatakan pada intinya: ganti rugi yang dapat dibebankan kepada Pelaku Usaha hanyalah ganti rugi berupa pengembalian uang, penggantian barang yang sejenis atau setara nilainya atau perawatan kesehatan dan/atau pemberian santunan. Berdasarkan uraian-uraian dan alasan-alasan hukum di atas, Honda telah mengajukan permohonan kepada Majelis Hakim agar gugatan tersebut ditolak atau dinyatakan tidak dapat diterima

Monday, May 11, 2015

Honda HR-V Raih Gelar Car Of The Year 2015 Di Ajang Otomotif Award

Honda HR-V meraih gelar bergengsi Car of The Year 2015 pada ajang OTOMOTIF Award 2015 yang digelar oleh Tabloid OTOMOTIF di Jakarta, 23 April 2015. Pada ajang tahunan ini, Honda juga meraih total 10 penghargaan untuk produk-produknya, termasuk sebuah penghargaan di kategori spesial untuk mesin 1.5 liter i-VTEC. 

Untuk meraih gelar mobil terbaik tahun 2015, Honda HR-V tidak hanya mengungguli semua segmen model di segmen SUV, tetapi juga sebanyak 30 kategori untuk roda empat dari berbagai kelas yang diuji oleh Tabloid Otomotif.  

Selain meraih gelar tertinggi “Car of The Year”, Honda HR-V juga mendapat 3 penghargaan untuk kategori lainnya yaitu “Best Small  SUV” untuk Honda HR-V 1.5 L,“Best Mid SUV Gasoline” untuk HR-V 1.8 L, dan “Best of The Best SUV” untuk HR-V 1.8 L.

Penghargaan ini menjadi lebih istimewa karena Honda HR-V masih termasuk pendatang baru, namun telah menunjukkan berbagai prestasi di pasar otomotif Indonesia. Sebelumnya, Honda HR-V juga telah meraih beberapa penghargaan di Indonesia yaitu dari MarkPlus dan Majalah Marketeers sebagai Best Small SUV dalam WOW Product Automotive Awards 2014. Selain itu Honda HR-V juga menjadi mobil terfavorit pengunjung pada ajang Pameran Otomotif Surabaya 2014 dan Best Car pada Pameran Otomotif Makassar 2014.

Angka penjualan HR-V sendiri hingga akhir Maret lalu telah mencapai 12.547 unit, dengan angka pemesanan yang saat ini telah melampaui 22.800 unit di seluruh Indonesia. Di segmen LSUV, Honda HR-V 1.5 liter bahkan langsung menjadi Market Leader hingga bulan Maret 2015 dengan pangsa pasar 52%. 

 “Honda sangat bangga karena selama dua tahun berturut-turut dianugerahi penghargaan Car of the Year dari majalah Otomotif, yaitu untuk Honda Mobilio di tahun 2014 dan Honda HR-V di tahun 2015. Kami percaya pengujian komprehensif yang dilakukan tabloid Otomotif melalui ajang ini dapat menjadi acuan bagi konsumen dalam memilih mobil yang terbaik untuk mereka,” ujar Tomoki Uchida, President Director  PT Honda Prospect Motor

Selain Honda HR-V, 4 model Honda lainnya yang juga mendapat penghargaan sebagai mobil terbaik di kategorinya masing-masing. Honda Mobilio yang tahun lalu terpilih menjadi Car of the Year 2014, kembali memantapkan posisinya dengan meraih 2 penghargaan untuk kategori “Best Low MPV” dan “Best of The Best MPV”. Sementara itu, MPV mewah dari Honda yaitu Honda Odyssey juga meraih penghargaan di kategori “Best Large MPV.” Sedangkan di segmen LCGC dan segmen sedan, Honda meraih penghargaan “Best LCGC” untuk Honda Brio Satya dan “Best Small Sedan” untuk Honda City. 

Penghargaan untuk Honda tidak hanya diterima di kategori produk, melainkan juga melalui kategori spesial award yaitu “Best Engine” untuk mesin 1.5 L i-VTEC. Penghargaan istimewa ini diterima mesin 1.5 liter i-VTEC Honda. Di Indonesia, mesin 1.5 liter i-VTEC Honda diusung untuk beberapa produk yaitu Honda Jazz, Honda Mobilio, Honda Freed, Honda HR-V dan Honda City. 

Jonfis Fandy, Marketing & After Sales Service Director PT HPM mengatakan, “Berbagai penghargan yang diraih Honda ini membuktikan komitmen untuk selalu menghadirkan produk yang berkualitas tinggi untuk konsumen di segmen manapun. Terlebih istimewa lagi, penghargaan untuk mesin 1.5 liter i-VTEC Honda sekali lagi menegaskan keunggulan mesin ini dalam hal performa maupun efisiensi bahan bakar, seperti yang telah dibuktikan sebelumnya di ajang balap nasional dengan Honda Jazz hingga lomba hemat bahan bakar yang telah kami gelar untuk Honda Mobilio.”


OTOMOTIF Award merupakan ajang pemilihan mobil-mobil terbaik dari tahun ke tahun yang telah diuji oleh Tabloid OTOMOTIF selama periode satu tahun. Penghargaan di ajang ini dibagi menjadi 30 kategori dan 4 Special Awards untuk roda empat yang diuji kepada seluruh finalis mobil dan motor di Indonesia. Pada tahun ini, OTOMOTIF Award telah memasuki tahun penyelenggaraan yang kedelapan